Dieng Culture Festival Sebuah Komodifikasi Budaya Untuk Pariwisata

Akhir – akhir ini muncul kekhawatiran akan nasib budaya tradisional sebagai akibat dari pengembangan pariwisata sebagai suatu Industri. Pengaruh – pengaruh yang merugikan itu antara lain terjadinya pengikisan dan penodaan terhadap budaya tradisional yang berbentuk seni tradisional, kearifan lokal ataupun kegiatan keagamaan.
Yang lebih berbahaya jika dilihat dari kebudayaan sekarang ini adalah terjadinya komersialisasi seni budaya dalam kepariwisataan. Tidak bisa dipungkiri bahwa pariwisata dapat menaikan taraf perekonomian rakyat, namun disisi lain komersialisasi seni budaya ini juga akan berdampak negatif pada masyarakat dan budaya itu sendiri.

 

Dieng Culture Festival

Dieng Culture Festival (DCF) adalah sebuah event yang acara puncaknya adalah ruwatan pemotongan rambut anak gimbal. DCF merupakan gagasan dari Kelompok Sadar Wisata Dieng Pandawa yang menggabungkan konsep budaya dengan wahana wisata alam, dengan misi pemberdayaan ekonomi masyarakat Dieng. Diselenggarakan pertama kali pada tahun 2010 atas kerjasama dari Equator Sinergi Indonesia, Pokdarwis Dieng Pandawa dan Dieng Ecotourism. Sebelum DCF sudah ada acara serupa yakni Pekan Budaya Dieng yang diadakan oleh masyarakat dan pemuda Dieng Kulon. Ketika memasuki tahun ke-3 Pekan Budaya, masyarakat berinisiatif membuat kelompok sadar wisata dan merubah nama event menjadi Dieng Culture Festival.
Pokdarwis Dieng Pandawa adalah komunitas atau kelompok sadar wisata yang mengelola desa wisata Dieng Kulon yang beranggotakan semua pelaku wisata termasuk diantaranya dari Homestay, Kerajinan, Tour Guide, Agrowisata, Seni dan Budaya yang berada di wilayah Dieng. Tujuan dari Pokdarwis Dieng Pandawa dalam mengembangkan pariwisata Dieng adalah untuk tercapainya masyarakat yang sadar wisata dan masyarakat yang mandiri. Selain DCF, Pokdarwis Dieng Pandawa juga aktif dalam kegiatan pengenalan kepada masyarakat tentang pentingnya pariwisata dalam berbagai sudut pandang, salah satunya dalam segi ekonomi.
Seperti yang telah disebutkan diawal, bahwa DCF memiliki acara ruwatan pemotongan rambut gimbal sebagai puncak acara. Ruwatan adalah upacara penyucian yang sudah menjadi adat di Jawa. Upacara ruwatan ini dilakukan untuk membuang sial, mala petaka dan atau mara bahaya.
Sementara itu, anak berambut gimbal/gembel merupakan fenomena unik. Fenomena anak gimbal ini terjadi di sejumlah desa di Dataran Tinggi Dieng, anak – anak asli Dieng tersebut berusia 40 hari sampai 6 tahun yang memiliki rambut gimbal secara alami dan tidak diduga dan bukan diciptakan.
Rambut gimbal anak Dieng dipercaya sebagai titipan penguasa alam ghaib dan baru bisa dipotong setelah ada permintaan dari anak bersangkutan. Permintaan tersebut harus dipenuhi, tidak kurang dan tidak dilebihkan. Sebelum acara pemotongan rambut, akan dilakukan ritual doa dibeberapa tempat, diantaranya adalah Candi Dwarawati, Komplek Candi Arjuna, Sendang Maerokoco, Candi Gatotkaca, Telaga Balaikambang, Candi Bima, Kawah Sikidang, Gua di Telaga Warna, Kali Pepek dan tempat pemakaman Dieng. Keesokan harinya baru dilakukan kirab menuju tempat pencukuran. Selama berkeliling desa anak – anak rambut gimbal ini dikawal para sesepuh, tokoh masyarakat, kelompok paguyuban seni tradisional, serta masyarakat.
Selain pemotongan rambut anak gimbal, DCF memiliki beragam acara pendukung, diantaranya adalah Jazz Atas Awan yang sekarang juga menjadi agenda event nasional, ada juga Festival Film Dieng, Festival Lampion, Minum Purwaceng Bersama, Camping DCF, Sendra Tari Rambut Gimbal, Jalan Sehat dan Reboisasi, serta Expo, dll.
Selama 4 periode DCF telah berhasil menyedot perhatian wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Karena Dieng Culture Festival selalu menyuguhkan perpaduan seni tradisi, kekayaan indie dan kontemporer menjadi kemasan yang sangat menarik, dan selain itu ada selalu yang baru pada setiap tahunnya.
Sesuai dengan Analisis potensi Kawasan Wisata Dieng oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah dengan menggunakan pendekatan 4A, yang salah satunya adalah “Atraksi” atau daya tarik wisata yang merupakan faktor penarik utama dalam kegiatan pariwisata, dimana Atraksi tersebut dapat dibagi menjadi tiga yaitu : (1) Atraksi Alam, (2) Atraksi Budaya, dan (3) Atraksi Buatan.
Kawasan Wisata Dieng memiliki kekayaan budaya yang unik dan dari segi jumlahnya cukup banyak sehingga dapat digunakan untuk menjadi suatu daya tarik pariwisata. Namun hal ini masih kurang dimanfaatkan secara baik, karena masih kurangnya informasi – informasi / publikasi mengenai waktu diadakannya acara – acara budaya tersebut sehingga turis tidak bisa ikut menikmati acara – acara budaya tersebut. Selain itu, tidak adanya informasi yang cukup akurat mengenai cerita dari adat istiadat dan peninggalan bersejarah tersebut mengakibatkan tidak adanya story making (pembuatan cerita – cerita, mitos, atau sejarah) dan story telling (proses penceritaan cerita – cerita, mitos atau sejarah) yang dapat dijadikan sebagai tambahan aktivitas bagi wisatawan ketika mendengarkan cerita dan makna dari adat istiadat dan peninggalan bersejarah tersebut.1 Disini menguatkan adanya DCF dijadikan alat untuk mengkomunikasikan ke masyarakat luas khasanah budaya dan adat istiadat yang dimiliki Dieng, sehingga manfaat pariwisata yang salah satunya adalah menambah wawasan / pengetahuan ini juga sampai ke wisatawan dengan baik.
Festival Budaya di Dataran Tinggi Dieng diharapkan dapat menjadi magnet baru wisata di Jawa Tengah pada umumnya dan Dieng pada khususnya, dengan mengenalkan potensi wisata dan juga seni budaya yang dimiliki kepada semua lapisan masyarakat baik di dalam negeri maupun mancanegara. Selain itu, DCF diandalkan sebagai sektor baru untuk peningkatan taraf ekonomi rakyat.

Komodifikasi Budaya Untuk Pariwisata

Aktivitas pembangunan ekonomi telah memodifikasi sumber daya dan mengubah struktur dan pola konsumsinya, termasuk didalamnya oleh sektor pariwisata (Pitana dan Diarta, 2009). Tidak dapat dipungkiri bahwa berjalanannya industri pariwisata sangat bergantung pada sumber daya yang ada. Dalam konteks pariwisata, sumber daya diartikan sebagai segala sesuatu yang memiliki potensi untuk dikembangkan dalam mendukung pariwisata. Sumber daya yang terkait dengan pengembangan pariwisata termasuk berupa Sumber Daya Alam, Sumber Daya Budaya, Sumber Daya Minat Khusus, serta Sumber Daya Manusia.
Pariwisata budaya merupakan salah satu jenis kepariwisataan yang dikembangkan bertumpu pada kebudayaan. Kebudayaan yang dimaksud adalah kebudayaan Indonesia yang berdasarkan Pancasila.2
Pariwisata budaya sebagai suatu kebijaksanaan pengembangan kepariwisataan di Indonesia memiliki unsur – unsur budaya yang penting dalam usahanya menarik wisatawan berkunjung ke Indonesia, diantaranya adalah :

  1. Untuk mempromosikan kepariwisataan secara umum baik dalam maupun luar negeri
  2. Produk seni budaya akan menyiapkan lapangan kerja dan peningkatan penghasilan masyarakat
  3. Penampilan seni dan budaya disamping menarik perhatian wisatawan juga meningkatkan pemberdayaan seni dan budaya
  4. Penampilan seni budaya dapat meningkatkan pemeliharaan dan manajemen museum, galeri dan monumen – monumen seni budaya lainnya.
    Dana yang dihasilkan dengan penjualan produk seni dan budaya bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat
  5. Sentuhan dengan seni budaya lain meningkatkan harkat, kehormatan dan pemahaman tentang arti kemanusiaan.
  6. Pembangunan kepariwisataan Indonesia diarahkan untuk (1) pelestarian seni dan budaya, (2) penanaman rasa cinta tanah air dan jati diring bangsa, (3) peningkatan devisa, (4) penciptaan lapangan kerja dan kesempatan berusaha, dan (5) memperkenalkan adat istiadat dan budaya Indonesia dalam rangka menjalin hubungan antarbangsa

“Kebudayaan” mengandung pengertian akan segala hasil olah pikir dan olah krida manusia, yang secara normatif dimiliki bersama oleh sebuah sosial yang disebut “masyarakat” (Yoeti, 2006) Kebudayaan memberikan daya tarik yang tak terbatas dalam setiap aspek kehidupan, tetapi ketika budaya bertemu dengan pariwisata yang menjadikan kebudayaan itu sebagai produk dari pariwisata maka akan terjadi komodifikasi, yaitu berubahnya suatu hal biasa menjadi sebuah komoditas. Komodifikasi akan memberikan dampak baik positif ataupun negatif.

Agar suatu kebudayaan dapat lestari, yaitu selalu ada eksistensinya, maka upaya – upaya yang perlu dijamin kelangsungannya meliputi: (1) Perlindungan, meliputi upaya – upaya untuk menjaga agar hasil – hasil budaya tidak hilang atau rusak; (2) Pengembangan, meliputi pengolahan yang menghasilkan peningkatan mutu dan atau perluasan khazanah; (3) Pemanfaatan, meliputi upaya – upaya untuk menggunakan hasil – hasil budaya untuk berbagai keperluan, seperti untuk menekankan citra identitas suatu bangsa, untuk pendidikan kesadaran budaya, untuk dijadikan muatan industri budaya, dan untuk dijadikan daya tarik wisata.

 

Dampak Positif Dieng Culture Festival

a. Naiknya Taraf Perekonomian

Dieng Culture Festival terbukti membantu kenaikan taraf perekonomian rakyat melalui pariwisata. DCF tidak hanya bertujuan mengenalkan potensi wisata dan seni budaya kepada masyarakat luas sebagai sebuah destinasi wisata, namun juga untuk memperbaiki perekonomian masyarakat yang pada waktu itu mulai melemah karena eksploitasi tanah besar – besaran oleh pertanian. Ternyata pariwisata tampil sebagai penopang selain sektor Pertanian.

b. Pelestarian Budaya

Dieng Culture Festival merupakan bentuk upaya pelestarian budaya ruwatan. Ruwatan banyak dilakukan di Jawa Tengah
dan Yogyakarta, namun ruwatan anak rambut gimbal yang Dieng miliki ini memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh daerah lain. DCF memperkuat alasan untuk terus dilaksanakannya ritual ruwatan ini di Dieng.

c. Promosi Pariwisata Daerah

Pemerintah daerah Dieng secara kreatif telah memberikan format Festival pada upacara ruwatan anak gimbal, promosi besar – besaran pun dilakukan demi menunjang kesuksesan acara ini. Dengan keunikan yang dimiliki oleh upacara pemotongan rambut gimbal ini, serta acara – acara pendukung yang dimiliki DCF mampu menarik perhatian masyarakat luas, baik lokal maupun mancanegara untuk berkunjung ke Dieng dan menyaksikan DCF. Jadi komodifikasi yang terjadi juga ikut membesarkan nama Dieng di kancah pariwisata nasional maupun internasional.

Konklusi

Kebudayaan adalah hal yang memberikan daya tarik tak terbatas dalam setiap aspek kehidupan. Tetapi ketika budaya bertemu dengan pariwisata yang menjadikan kebudayaan itu sebagai produk, maka tidak bisa dipungkiri bahwa akan terjadi komodifikasi, yang merubah budaya menjadi sebuah komoditas. Di satu sisi Dieng Culture Festival bisa mendongkrak nama dan perekonomian Dieng, tetapi disisi lain dilihat dari sudut pandang tradisi dan kebudayaan seperti kehilangan makna dan tradisi.
Kebudayaan dan pariwisata memang bisa menghasilkan keuntungan, tetapi harus tetap berpegang teguh pada makna dan kesakralan. Tradisi ini berlanjut karena warga dengan kearifan lokalnya yang percaya akan makna tradisi itu. Kesejahteraan masyarakat dan kearifan lokalnya sudah sebaiknya menjadi pertimbangan utama semua pihak ketika akan menetapkan kebijakan pariwisata. Sebab kebudayaan itu ada karena masyarakat, berawal dari masyarakat, dan didayagunakan untuk masyarakat.

sumber: scribd

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *