Camping Ground Dieng Culture Festival 9 2018

Apa yangperlu kalian siapkan ketika camping di Dieng Culture Festival?

 

Dieng merupakan sebuiah Kawasan dataran tinggi dengan latar pegunungan dan bentang alam yang memikat hati,tidak ketinggalan situs situs peninggalan kejayaan mataram kun masih bias kita jumpai di sekitar pegunungan dieng.

Kondisi alam dieng tergolong cukup ekstrem dengan suhu dingin pada musim kemarau,terutama mulai petang hingga pagi hari,tercatat hampir setiap tahun suhu di Kawasan dieng mencapai -4* Celsius.Bulan juni – September Indonesia memasuki musim kemarau tentunya di Kawasan dieng juga akan mengalami perubahan cuaca yang sama,dan suhu akan mulai menurun hingga titik beku.Fenomena alam yang kerap terjadi saat musim kemarau di dataran tinggi dieng adalah munculnya embun salju,biasanya terjadi di Kawasan obyek wisata Candi Arjun dan sekitarnya.

 

Lalu apa yang perlu kami siapkan ketika Dieng Culture Festival Berlangsung?

 

Camping Ground yang akan kami siapkan di Dieng Culture Festival berada di Kawasan yang bias dikatakan pusat embun salju terjadi,jadi beberapa hal berikut perlu kalian perhatikan untuk kenyamanan dan perhatian teman teman.

 

  1. Bulan Agustus saat pelaksanaan DCF2018 adalah puncak musim kemarau,dan suhu bias mencapai 0 Derajat Celsius,jadi persiapkan baju yang cukup tebal untuk menghangatkan tubuh
  2. Perhatikan baik baik kondisi tubuh kalian saat berada di camping ground, terutama saat malam dan pagi hari,jaga kondisi tubuh dengan multivitamin yang cukup dan makanan yang berserat.
  3. Perhatikan stok Air Mineral untuk memenuhi kebutuhan air tubuh kalian
  4. Siapkan obat obatan ringan ,meskipun panitia menyediakan beberapa titik P3K namun perlu kalian siapkan juga,terutama obat obatan pribadi
  5. Anak anak tidak kami sarankan mengikuti kegiatan di DCF 2018 terutama saat malam dan pagi hari
  6. Jaga baik baik barang berharga,kami sarankan tidak berlebihan membawa barang barang pribadi,terutama pasangan 😊
  7. Kami menyediakan MCK portable sederhana sebagai fasilitas umum di camping ground
  8. Ajak kawan yang sepaham dengan kalian untuk berbagi tenda untuk meminimalisir biaya 😊
  9. Kami melarang keras untuk tidak membawa atau mengkonsumsi Narkoba,minuman keras,obat obatan terlarang ,dan membawa senjata tajam yang beresiko membahayakan orang lain
  10. Koordinasikan segala sesuatu kepada panitia yang bertugas di sekitar camping ground
  11. Jangan sembarangan menaruh sampah,kebersihan Kawasan camping ground adalah tanggung jawab penuh peserta
  12. peserta yang melakukan tindak kekerasan,asusila atau tindakan kriminal di camping ground maupun di kawasan wisata dieng akan dikenakan sanksi pidana oleh pihak berwajib
  13. berbagilah kepada peserta lain, niscaya rejeki kalian bertambah 😊

Tiket Dieng Culture Festival 9 2018

Pemberlakukan tiket pada Dieng Culture Festival (DCF) adalah upaya panitia penyelenggara dalam fundraising (penggalangan dana) untuk pembiayaan kegiatan DCF yang besar. Pembiayaan kegiatan termasuk untuk pembiayaan acara ritual dan pemenuhan barang dan jasa apapun permintaan anak gembel yang akan dicukur rambutnya, menjadi tanggungjawab panitia penyelenggara. Karenanya, kegiatan Dieng Culture Festival adalah juga event gotong royong karena partisipasi banyak pihak, khususnya pengunjung yang masih bersedia menghargai penyelenggaraan event dengan membayar paket tiket yang dirilis oleh Panitia Penyelenggara Dieng Culture Festival.

Dari sebagian kecil tersebut sisanya akan dikembalikan kepada pengunjung yang membeli paket Paket (tiket) DCF dengan mendapatkan benefit berupa Pass-Card (harus selalu dipakai) sebagai tanda free-pass masuk kawasan candi Arjuna, sekaligus juga kawasan wisata Telaga Warna dan Kawah Sikidang. Selain itu, pembeli paket tiket DCF akan mendapatkan merchandise berupa T-Shirt, Kain Batik selendang, caping gunung yang harus dipergunakan saat mengikuti upacara ritual cukur rambut gembel, Lampion untuk diterbangkan bersama-sama. Semua cenderamata tersebut akan dikemas dalam tas khusus sebagai kenang-kenangan pengunjung.

Dieng Culture Festival Merupakan even Budaya yang Romantis dengan suguhan alam yang menawan. Even ini dilaksanakan di Desa Dieng Kulon Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara Dieng adalah kawasan vulkanik aktif di Jawa Tengah, Pada even ini disuguhkan pula pentas musik jazz yang dikemas secara apik dan romantis.

Isi paket Dieng Culture Festival
1. 1 Goodie Bag
2. 1 Pcs Sky Lantern
3. 1 Pcs Kain Batik
4. 1 Pcs T-Shirt DCF2018
5. 1 Pcs Syal
5. 3 Tiket Wisata (Candi Arjuna Kawah, Kawah Sikidang dan Telaga Warna.
6. Akses Bebas Festival dan Semua Acara.
7. 1 Pcs Caping Gunung
8. 1 Pack Merchandise

Tiket DCF 9 bisa diakses melalui official partner kami di bookmyshow dan pointer, klik gambar dibawah ini :

Festival Tumpeng Dieng Culture Festival Dieng 9 2018

Dalam acara Dieng Culture Festival 9 tahun 2018 ada beberapa tambahan acara yang sangat menyita perhatian salah satunya adalah akan di adakanya Festival Tumpeng, Festival Tumpeng ini diadakan oleh panitia Dieng Culture Festival bekerjasama dengan Paguyuban Homestay Dieng Kulon, nantinya homestay yang ada di Dieng Kulon ini akan di bagi dalam beberapa kelompok untuk membuat tumpeng tumpeng tersebut dan akan di lombakan, tidak hanya itu setelah tumpeng tersebut di lombakan semua masyarakat yang hadir dan peserta Dieng Culture Festival akan menyantap dan menikmati tumpeng tersebut.

Festival Bunga di Dieng Culture Festival 9 2018

Dieng Culture Festival yang pada tahun ini mengangkat tema “The Beauty of Culture”, ada beberapa rangkaian acara baru yang menyita perhatian salah satunya adalah Festival Bunga Dieng acara ini di harapkan mengangkat potensi bunga yang ada di dieng khususnya bunga Calla lily, Bunga Calla lily di dieng identik dengan warna putih tetapi ada beberapa macam warna seperti warna merah, kuning, jingga, ungu, pink, hitam, hijau.

 

Bunga ini adalah sebagai salah satu daya tarik dimana nantinya peserta Dieng Culture Festival dapat menikmati keindahan bunga Calla lily yang di tempatkan di beberapa spot di area acara Dieng Culture Festival seperti stand, photo booth, panggung, kendaraan selama acara kirab, selain itu peserta juga dapat bersua poto dan membeli bunga Calla Lily di Stand yang sudah disediakan.

Festival Caping Gunung Dieng Culture Festival 9 2018

 

Festival  Caping Gunung Dieng Culture Festival

Festival caping gunung dalam acara dieng culture festival memiliki konsep Someting to buy, something to do, dan something buy. Seperti pada even yang lalu caping ini masuk dalam paket dalam pembelian tiket. Panitia megajak peserta secara langsung untuk merias dan mengecat Caping dengan  memfasilitasi cat di venue yang kemudian akan di beri penilaian oleh para juri dari festival caping gunung. Festival ini di maksudkan untuk mengangkat budaya dieng sekaligus mengenalkan kepada peserta keseharian penutup kepala yang di gunakan untuk menutup kepala saat beraktivitas di bawah terik matahari yang hingga sekarang caping ini masih senantiasa digunakan petani dieng.

Anak Gimbal, Keunikan Mistis dari Tanah Dieng

Dieng merupakan tempat yang mempunyai banyak potensi alam yang bisa dijadikan tempat wisata. Contoh-contoh tempat wisata yang ada di Dieng antara lain Telaga Warna, Telaga Cembong, Kawah Sikadang, Candi Arjuna, Candi Dwarawati, Dieng Plateau (tempat pemutaran film tentang Dieng), dan masih banyak lagi.

Di balik kekayaan alamnya yang sangat indah, jika Anda berkunjung ke Dieng pasti Anda akan menemukan beberapa anak yang berambut bajang (rambut gimbal). Di daerah Dieng, mempunyai anak atau keturunan yang berambut gimbal sudah merupakan hal yang biasa. Tetapi bagi orang awam yang baru berkunjung atau melihat secara langsung anak-anak ini pasti akan bertanya-tanya tentang asal-usul dari kejadian ini. Sebenarnya, tidak ada yang mengetahui secara jelas mengapa bisa terjadi hal seperti ini.
Ada 2 versi mengenai asal-usul anak gimbal ini. Pertama adalah masyarakat yakin rambut gimbal adalah keturunan dari nenek moyang yang menemukan daerah Dieng, yaitu Kyai Kolodete. Konon katanya, Kyai Kolodete tidak akan pernah mandi dan mencuci rambutnya sebelum daerah yang ditemukannya itu menjadi makmur. Hingga saat ini kepercayaan itu masih dianggap benar oleh masyarakat sekitar. Masyarakat menilai jika mereka memiliki keturunan yang berambut gimbal maka hidupnya akan makmur.

Versi keduanya, anak-anak di daerah Dieng memiliki rambut gimbal karena adanya gas belerang atau adanya sumber belerang di daerah Dieng. Maka pada saat ibu mereka mengandung, ibu mereka terlalu sering menghirup gas belerang, maka gen yang dihasilkan tidak sempurna dan anak yang lahir mempunyai rambut yang gimbal. Tetapi pendapat ini masih belum bisa dibuktikan kebenarannya.

Sesepuh desa di Dieng mengatakan, anak yang berambut gimbal adalah anak yang suci. Semua permintaan yang diminta oleh anak gimbal harus dituruti secara tepat, tidak boleh kurang maupun lebih. Masyarakat tidak berani melanggar pantangan-pantangan menyangkut mitos anak gimbal ini, seperti memotong rambut gimbal tersebut sebelum si anak meminta untuk dipotong. Apabila dilanggar maka akan mengakibatkan si anak sakit dan rambut pun kembali gimbal.

Adapun ritual yang diadakan untuk memotong rambut gimbal itu, dikenal masyarakat dengan nama Dieng Culture Festival. Biasanya acara ini diadakan pada bulan Sura dalam kalender Jawa dan diselenggarakan di kompleks Candi Arjuna. Pada ritual ini, mitosnya orangtua harus menuruti semua apa yang diminta oleh anaknya, jika tidak maka anaknya akan sakit-sakitan. Rangkaian acara ini pertama, anak gimbal akan dimandikan dengan air dari 7 sumber, kemudian diarak, dan dilempari beras kuning dan uang koin, baru dipotong rambut gimbalnya oleh pemuka adat. Terakhir, potongan rambutnya akan dibuang ke Telaga Warna.

Pokdarwis Dieng Pandawa Meraih Penghargaan Pada Wonderful Indonesia Tourism Awards 2017

Pokdarwis Dieng Pandawa yang terletak di Desa Wisata Dieng Kulon, berhasil menjadi juara III kategori Kelompok Sadar Wisata Mandiri dalam event Wonderful Indonesia Tourism Awards 2017 di Assembly Hall Hoatel Bidakara Jakarta, Rabu (27/9) lalu. Menteri Pariwisata Arief Yahya menyerahkan langsung hadiah kepada para pemenang dalam event tersebut.

Acara yang dibalut dalam gala dinner ini dibuka dengan penampilan tari konteporer yang menggambarkan keanekaragaman budaya Indonesia dan tari Saman khas Gayo, Aceh. Dilanjutkan dengan paparan Menteri Pariwisata Arief Yahya yang melaporkan poin-poin penting dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata III yang berakhir sore hari sebelum Wonderful Indonesia Tourism Awards digelar. Puncaknya, 9 awards yang diberikan untuk Artist dan Sutradara Video WI Pemenang UNWTO Video Awards, Pemeran Utama Video WI, Indonesia Sustainable Tourism Awards (ISTA), Green Hotel Awards, Penghargaan Pokdarwis, Penghargaan Homestay, Penghargaan Community Based Tourism (CBT), dan Sayembara Desain Restoran Arsitektur Nusantara.

 

PENDAPATAN RATA-RATA BULANAN KELOMPOK KERJA/BIDANG USAHA PARIWISATA

                                         

  DESA WISATA DIENG KULON
NO
POKJA ATAU BIDANG USAHA
PENDAPATAN RATA-RATA PERBULAN
2012
2013
2014
2015
2016
JUMLAH ANGGOTA
PENDATAN RATA-RATA/BULAN
JUMLAH ANGGOTA
PENDATAN RATA-RATA/BULAN
JUMLAH ANGGOTA
PENDATAN RATA-RATA/BULAN
JUMLAH ANGGOTA
PENDATAN RATA-RATA/BULAN
JUMLAH ANGGOTA
PENDATAN RATA-RATA/BULAN
1
HOMESTAY (HS)
32 HS
Rp 3.500.000/HS
54 HS
Rp 3.800.000/HS
78 HS
Rp 3.950.000/HS
93 HS
Rp 4.100.000/HS
120 HS
Rp 4.350.000/HS
2
MAKANAN KHAS (UKM)
1 UKM (15 orang)
Rp 15.000.000/UKM
2 UKM
(21 orang)
Rp 16.000.000/UKM
2 UKM (35 0rang)
Rp 18.000.000/UKM
3 UKM
(53 0rang)
Rp 22.000.000/UKM
3 UKM (76 0rang)
Rp 25.000.000/UKM
3
GUIDE LOKAL
18 orang (org)
Rp 1.750.000/org
28 orang
Rp 1.800.000/org
32 orang
Rp  2.200.000/org
48 orang
Rp 2.600.000/org
55 orang
Rp 3.000.000/org
4
SENI BUDAYA
Masih usaha sampingan
8  (klp)
Rp 2.000.000/klp
8 (klp)
Rp 2.200.000/klp
8 (klp)
Rp 2.800.000/klp
8 (klp)
Rp 3.500.000/klp
8 (klp)
Rp 4.000.000/klp
5
FOTO GRAFER
 5 0rg
Rp 1.500.000/org
7 org
Rp 1.750.000/org
9 org
Rp 2.050.000/0rg
12 0rg
Rp. 2.200.000/org
16 org
Rp 2.500.000/org
6
KERAJINAN
Masih usaha sampingan
1 klp
(5 org
Rp 500.000/org
1 klp
(5 org
Rp 750.000/0rg
1 klp
(7 org
Rp 800.000/org
1 klp
(7 org
Rp 1.200.000/orang
2 klp
(12 org
Rp 1.500.000/org
7
KEAMANAN & PARKIR
20 orang
Rp 1.600.000/org
22
orang
Rp 1.750.000/org
25 0rang
Rp.2.100.000/org
32 orang
Rp 2.150.000/org
40 orang
Rp 2.200.000/org
8
ANGKUTAN
(sepada motor, mobil, kuda)
1 klp (5 org)
Rp 1.800.000/0rg
2 klp
(15 org)
Rp 2.200.000/org
3 klp (25 orang
Rp 2.300.000/org
9
LH SEWA TENDA CAMPING & FLYING FOX
1 klp
(14 org)
Rp.1000.000/orang
2 klp
(20 org)
Rp 1.500.000/orang
2 klp
(22 org)
Rp 1.800.000/orang
3 klp
(36org)
Rp 2.200.000/org
3 klp
(36 org)
Rp 2.500.000/org

Continue reading “PENDAPATAN RATA-RATA BULANAN KELOMPOK KERJA/BIDANG USAHA PARIWISATA”

DATA KUNJUNGAN DESA WISATA DIENG KULON

DATA KUNJUNGAN DESA WISATA DIENG KULON

WISATAWAN
2012
2013
2014
2015
2016
Nusantara
–           1 H
–           2 H
–           > 2H
103.482
47.714
7.952
114.828
52.998
8.833
174.174
101.602
14.154
194.194
129.463
17.035
233.281
129.063
59.532
Jumlah
159.048
176.659
290.290
340.692
421.876
Mancanegara
–           1 H
–           2 H
–           > 2H
5.529
1.475
369
5.575
1.487
371
5.520
1.472
368
5.513
1.969
393
3.412
2.171
620
Jumlah
7.373
7.433
7.360
7.875
6.203
Total
166.421
184.092
297.420
348.767
418.019

 

Ket : 

  • 1 H adalah wisatawan yang berkunjung selama 1 hari / Paket wisata 1 hari dan berdampak ekonomi pada usaha masyarakat desa wisata seperti kegiatan Pemandu lokal, Foto grafer, Kesenian, angkutan wisata, kuliner makan 1 – 2 x, sovenir dan dan oleh-oleh, serta keaman parkir
  • 2 H adalah wisatawan yang berkunjung menginap dan berdampak pada usaha masyarakat desa wisata seperti pada 1 H dan ditambah homestay atau pengusaha peralatan camping dan atraksi ain seperti agrowisata kunjungan pertanian , out bound, pembuatan kerajiana dll
  • 3 H adalah wisatawan yang berkunjung dan menginap lebih dari 1 malam dan berdampak pada usaha masyarakat desa wisata seperti di 2H ditambah dengan kegiatan lain seperti kunjungan ke Geothermal dll

Dieng Culture Festival Sebuah Komodifikasi Budaya Untuk Pariwisata

Akhir – akhir ini muncul kekhawatiran akan nasib budaya tradisional sebagai akibat dari pengembangan pariwisata sebagai suatu Industri. Pengaruh – pengaruh yang merugikan itu antara lain terjadinya pengikisan dan penodaan terhadap budaya tradisional yang berbentuk seni tradisional, kearifan lokal ataupun kegiatan keagamaan.
Yang lebih berbahaya jika dilihat dari kebudayaan sekarang ini adalah terjadinya komersialisasi seni budaya dalam kepariwisataan. Tidak bisa dipungkiri bahwa pariwisata dapat menaikan taraf perekonomian rakyat, namun disisi lain komersialisasi seni budaya ini juga akan berdampak negatif pada masyarakat dan budaya itu sendiri.

 

Dieng Culture Festival

Dieng Culture Festival (DCF) adalah sebuah event yang acara puncaknya adalah ruwatan pemotongan rambut anak gimbal. DCF merupakan gagasan dari Kelompok Sadar Wisata Dieng Pandawa yang menggabungkan konsep budaya dengan wahana wisata alam, dengan misi pemberdayaan ekonomi masyarakat Dieng. Diselenggarakan pertama kali pada tahun 2010 atas kerjasama dari Equator Sinergi Indonesia, Pokdarwis Dieng Pandawa dan Dieng Ecotourism. Sebelum DCF sudah ada acara serupa yakni Pekan Budaya Dieng yang diadakan oleh masyarakat dan pemuda Dieng Kulon. Ketika memasuki tahun ke-3 Pekan Budaya, masyarakat berinisiatif membuat kelompok sadar wisata dan merubah nama event menjadi Dieng Culture Festival.
Pokdarwis Dieng Pandawa adalah komunitas atau kelompok sadar wisata yang mengelola desa wisata Dieng Kulon yang beranggotakan semua pelaku wisata termasuk diantaranya dari Homestay, Kerajinan, Tour Guide, Agrowisata, Seni dan Budaya yang berada di wilayah Dieng. Tujuan dari Pokdarwis Dieng Pandawa dalam mengembangkan pariwisata Dieng adalah untuk tercapainya masyarakat yang sadar wisata dan masyarakat yang mandiri. Selain DCF, Pokdarwis Dieng Pandawa juga aktif dalam kegiatan pengenalan kepada masyarakat tentang pentingnya pariwisata dalam berbagai sudut pandang, salah satunya dalam segi ekonomi.
Seperti yang telah disebutkan diawal, bahwa DCF memiliki acara ruwatan pemotongan rambut gimbal sebagai puncak acara. Ruwatan adalah upacara penyucian yang sudah menjadi adat di Jawa. Upacara ruwatan ini dilakukan untuk membuang sial, mala petaka dan atau mara bahaya.
Sementara itu, anak berambut gimbal/gembel merupakan fenomena unik. Fenomena anak gimbal ini terjadi di sejumlah desa di Dataran Tinggi Dieng, anak – anak asli Dieng tersebut berusia 40 hari sampai 6 tahun yang memiliki rambut gimbal secara alami dan tidak diduga dan bukan diciptakan.
Rambut gimbal anak Dieng dipercaya sebagai titipan penguasa alam ghaib dan baru bisa dipotong setelah ada permintaan dari anak bersangkutan. Permintaan tersebut harus dipenuhi, tidak kurang dan tidak dilebihkan. Sebelum acara pemotongan rambut, akan dilakukan ritual doa dibeberapa tempat, diantaranya adalah Candi Dwarawati, Komplek Candi Arjuna, Sendang Maerokoco, Candi Gatotkaca, Telaga Balaikambang, Candi Bima, Kawah Sikidang, Gua di Telaga Warna, Kali Pepek dan tempat pemakaman Dieng. Keesokan harinya baru dilakukan kirab menuju tempat pencukuran. Selama berkeliling desa anak – anak rambut gimbal ini dikawal para sesepuh, tokoh masyarakat, kelompok paguyuban seni tradisional, serta masyarakat.
Selain pemotongan rambut anak gimbal, DCF memiliki beragam acara pendukung, diantaranya adalah Jazz Atas Awan yang sekarang juga menjadi agenda event nasional, ada juga Festival Film Dieng, Festival Lampion, Minum Purwaceng Bersama, Camping DCF, Sendra Tari Rambut Gimbal, Jalan Sehat dan Reboisasi, serta Expo, dll.
Selama 4 periode DCF telah berhasil menyedot perhatian wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Karena Dieng Culture Festival selalu menyuguhkan perpaduan seni tradisi, kekayaan indie dan kontemporer menjadi kemasan yang sangat menarik, dan selain itu ada selalu yang baru pada setiap tahunnya.
Sesuai dengan Analisis potensi Kawasan Wisata Dieng oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah dengan menggunakan pendekatan 4A, yang salah satunya adalah “Atraksi” atau daya tarik wisata yang merupakan faktor penarik utama dalam kegiatan pariwisata, dimana Atraksi tersebut dapat dibagi menjadi tiga yaitu : (1) Atraksi Alam, (2) Atraksi Budaya, dan (3) Atraksi Buatan.
Kawasan Wisata Dieng memiliki kekayaan budaya yang unik dan dari segi jumlahnya cukup banyak sehingga dapat digunakan untuk menjadi suatu daya tarik pariwisata. Namun hal ini masih kurang dimanfaatkan secara baik, karena masih kurangnya informasi – informasi / publikasi mengenai waktu diadakannya acara – acara budaya tersebut sehingga turis tidak bisa ikut menikmati acara – acara budaya tersebut. Selain itu, tidak adanya informasi yang cukup akurat mengenai cerita dari adat istiadat dan peninggalan bersejarah tersebut mengakibatkan tidak adanya story making (pembuatan cerita – cerita, mitos, atau sejarah) dan story telling (proses penceritaan cerita – cerita, mitos atau sejarah) yang dapat dijadikan sebagai tambahan aktivitas bagi wisatawan ketika mendengarkan cerita dan makna dari adat istiadat dan peninggalan bersejarah tersebut.1 Disini menguatkan adanya DCF dijadikan alat untuk mengkomunikasikan ke masyarakat luas khasanah budaya dan adat istiadat yang dimiliki Dieng, sehingga manfaat pariwisata yang salah satunya adalah menambah wawasan / pengetahuan ini juga sampai ke wisatawan dengan baik.
Festival Budaya di Dataran Tinggi Dieng diharapkan dapat menjadi magnet baru wisata di Jawa Tengah pada umumnya dan Dieng pada khususnya, dengan mengenalkan potensi wisata dan juga seni budaya yang dimiliki kepada semua lapisan masyarakat baik di dalam negeri maupun mancanegara. Selain itu, DCF diandalkan sebagai sektor baru untuk peningkatan taraf ekonomi rakyat.

Komodifikasi Budaya Untuk Pariwisata

Aktivitas pembangunan ekonomi telah memodifikasi sumber daya dan mengubah struktur dan pola konsumsinya, termasuk didalamnya oleh sektor pariwisata (Pitana dan Diarta, 2009). Tidak dapat dipungkiri bahwa berjalanannya industri pariwisata sangat bergantung pada sumber daya yang ada. Dalam konteks pariwisata, sumber daya diartikan sebagai segala sesuatu yang memiliki potensi untuk dikembangkan dalam mendukung pariwisata. Sumber daya yang terkait dengan pengembangan pariwisata termasuk berupa Sumber Daya Alam, Sumber Daya Budaya, Sumber Daya Minat Khusus, serta Sumber Daya Manusia.
Pariwisata budaya merupakan salah satu jenis kepariwisataan yang dikembangkan bertumpu pada kebudayaan. Kebudayaan yang dimaksud adalah kebudayaan Indonesia yang berdasarkan Pancasila.2
Pariwisata budaya sebagai suatu kebijaksanaan pengembangan kepariwisataan di Indonesia memiliki unsur – unsur budaya yang penting dalam usahanya menarik wisatawan berkunjung ke Indonesia, diantaranya adalah :

  1. Untuk mempromosikan kepariwisataan secara umum baik dalam maupun luar negeri
  2. Produk seni budaya akan menyiapkan lapangan kerja dan peningkatan penghasilan masyarakat
  3. Penampilan seni dan budaya disamping menarik perhatian wisatawan juga meningkatkan pemberdayaan seni dan budaya
  4. Penampilan seni budaya dapat meningkatkan pemeliharaan dan manajemen museum, galeri dan monumen – monumen seni budaya lainnya.
    Dana yang dihasilkan dengan penjualan produk seni dan budaya bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat
  5. Sentuhan dengan seni budaya lain meningkatkan harkat, kehormatan dan pemahaman tentang arti kemanusiaan.
  6. Pembangunan kepariwisataan Indonesia diarahkan untuk (1) pelestarian seni dan budaya, (2) penanaman rasa cinta tanah air dan jati diring bangsa, (3) peningkatan devisa, (4) penciptaan lapangan kerja dan kesempatan berusaha, dan (5) memperkenalkan adat istiadat dan budaya Indonesia dalam rangka menjalin hubungan antarbangsa

“Kebudayaan” mengandung pengertian akan segala hasil olah pikir dan olah krida manusia, yang secara normatif dimiliki bersama oleh sebuah sosial yang disebut “masyarakat” (Yoeti, 2006) Kebudayaan memberikan daya tarik yang tak terbatas dalam setiap aspek kehidupan, tetapi ketika budaya bertemu dengan pariwisata yang menjadikan kebudayaan itu sebagai produk dari pariwisata maka akan terjadi komodifikasi, yaitu berubahnya suatu hal biasa menjadi sebuah komoditas. Komodifikasi akan memberikan dampak baik positif ataupun negatif.

Agar suatu kebudayaan dapat lestari, yaitu selalu ada eksistensinya, maka upaya – upaya yang perlu dijamin kelangsungannya meliputi: (1) Perlindungan, meliputi upaya – upaya untuk menjaga agar hasil – hasil budaya tidak hilang atau rusak; (2) Pengembangan, meliputi pengolahan yang menghasilkan peningkatan mutu dan atau perluasan khazanah; (3) Pemanfaatan, meliputi upaya – upaya untuk menggunakan hasil – hasil budaya untuk berbagai keperluan, seperti untuk menekankan citra identitas suatu bangsa, untuk pendidikan kesadaran budaya, untuk dijadikan muatan industri budaya, dan untuk dijadikan daya tarik wisata.

 

Dampak Positif Dieng Culture Festival

a. Naiknya Taraf Perekonomian

Dieng Culture Festival terbukti membantu kenaikan taraf perekonomian rakyat melalui pariwisata. DCF tidak hanya bertujuan mengenalkan potensi wisata dan seni budaya kepada masyarakat luas sebagai sebuah destinasi wisata, namun juga untuk memperbaiki perekonomian masyarakat yang pada waktu itu mulai melemah karena eksploitasi tanah besar – besaran oleh pertanian. Ternyata pariwisata tampil sebagai penopang selain sektor Pertanian.

b. Pelestarian Budaya

Dieng Culture Festival merupakan bentuk upaya pelestarian budaya ruwatan. Ruwatan banyak dilakukan di Jawa Tengah
dan Yogyakarta, namun ruwatan anak rambut gimbal yang Dieng miliki ini memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh daerah lain. DCF memperkuat alasan untuk terus dilaksanakannya ritual ruwatan ini di Dieng.

c. Promosi Pariwisata Daerah

Pemerintah daerah Dieng secara kreatif telah memberikan format Festival pada upacara ruwatan anak gimbal, promosi besar – besaran pun dilakukan demi menunjang kesuksesan acara ini. Dengan keunikan yang dimiliki oleh upacara pemotongan rambut gimbal ini, serta acara – acara pendukung yang dimiliki DCF mampu menarik perhatian masyarakat luas, baik lokal maupun mancanegara untuk berkunjung ke Dieng dan menyaksikan DCF. Jadi komodifikasi yang terjadi juga ikut membesarkan nama Dieng di kancah pariwisata nasional maupun internasional.

Konklusi

Kebudayaan adalah hal yang memberikan daya tarik tak terbatas dalam setiap aspek kehidupan. Tetapi ketika budaya bertemu dengan pariwisata yang menjadikan kebudayaan itu sebagai produk, maka tidak bisa dipungkiri bahwa akan terjadi komodifikasi, yang merubah budaya menjadi sebuah komoditas. Di satu sisi Dieng Culture Festival bisa mendongkrak nama dan perekonomian Dieng, tetapi disisi lain dilihat dari sudut pandang tradisi dan kebudayaan seperti kehilangan makna dan tradisi.
Kebudayaan dan pariwisata memang bisa menghasilkan keuntungan, tetapi harus tetap berpegang teguh pada makna dan kesakralan. Tradisi ini berlanjut karena warga dengan kearifan lokalnya yang percaya akan makna tradisi itu. Kesejahteraan masyarakat dan kearifan lokalnya sudah sebaiknya menjadi pertimbangan utama semua pihak ketika akan menetapkan kebijakan pariwisata. Sebab kebudayaan itu ada karena masyarakat, berawal dari masyarakat, dan didayagunakan untuk masyarakat.

sumber: scribd