Categories
Tak Berkategori

Dieng Culture Festival Sebuah Komodifikasi Budaya Untuk Pariwisata

Akhir – akhir ini muncul kekhawatiran akan nasib budaya tradisional sebagai akibat dari pengembangan pariwisata sebagai suatu Industri. Pengaruh – pengaruh yang merugikan itu antara lain terjadinya pengikisan dan penodaan terhadap budaya tradisional yang berbentuk seni tradisional, kearifan lokal ataupun kegiatan keagamaan.
Yang lebih berbahaya jika dilihat dari kebudayaan sekarang ini adalah terjadinya komersialisasi seni budaya dalam kepariwisataan. Tidak bisa dipungkiri bahwa pariwisata dapat menaikan taraf perekonomian rakyat, namun disisi lain komersialisasi seni budaya ini juga akan berdampak negatif pada masyarakat dan budaya itu sendiri.

 

Dieng Culture Festival

Dieng Culture Festival (DCF) adalah sebuah event yang acara puncaknya adalah ruwatan pemotongan rambut anak gimbal. DCF merupakan gagasan dari Kelompok Sadar Wisata Dieng Pandawa yang menggabungkan konsep budaya dengan wahana wisata alam, dengan misi pemberdayaan ekonomi masyarakat Dieng. Diselenggarakan pertama kali pada tahun 2010 atas kerjasama dari Equator Sinergi Indonesia, Pokdarwis Dieng Pandawa dan Dieng Ecotourism. Sebelum DCF sudah ada acara serupa yakni Pekan Budaya Dieng yang diadakan oleh masyarakat dan pemuda Dieng Kulon. Ketika memasuki tahun ke-3 Pekan Budaya, masyarakat berinisiatif membuat kelompok sadar wisata dan merubah nama event menjadi Dieng Culture Festival.
Pokdarwis Dieng Pandawa adalah komunitas atau kelompok sadar wisata yang mengelola desa wisata Dieng Kulon yang beranggotakan semua pelaku wisata termasuk diantaranya dari Homestay, Kerajinan, Tour Guide, Agrowisata, Seni dan Budaya yang berada di wilayah Dieng. Tujuan dari Pokdarwis Dieng Pandawa dalam mengembangkan pariwisata Dieng adalah untuk tercapainya masyarakat yang sadar wisata dan masyarakat yang mandiri. Selain DCF, Pokdarwis Dieng Pandawa juga aktif dalam kegiatan pengenalan kepada masyarakat tentang pentingnya pariwisata dalam berbagai sudut pandang, salah satunya dalam segi ekonomi.
Seperti yang telah disebutkan diawal, bahwa DCF memiliki acara ruwatan pemotongan rambut gimbal sebagai puncak acara. Ruwatan adalah upacara penyucian yang sudah menjadi adat di Jawa. Upacara ruwatan ini dilakukan untuk membuang sial, mala petaka dan atau mara bahaya.
Sementara itu, anak berambut gimbal/gembel merupakan fenomena unik. Fenomena anak gimbal ini terjadi di sejumlah desa di Dataran Tinggi Dieng, anak – anak asli Dieng tersebut berusia 40 hari sampai 6 tahun yang memiliki rambut gimbal secara alami dan tidak diduga dan bukan diciptakan.
Rambut gimbal anak Dieng dipercaya sebagai titipan penguasa alam ghaib dan baru bisa dipotong setelah ada permintaan dari anak bersangkutan. Permintaan tersebut harus dipenuhi, tidak kurang dan tidak dilebihkan. Sebelum acara pemotongan rambut, akan dilakukan ritual doa dibeberapa tempat, diantaranya adalah Candi Dwarawati, Komplek Candi Arjuna, Sendang Maerokoco, Candi Gatotkaca, Telaga Balaikambang, Candi Bima, Kawah Sikidang, Gua di Telaga Warna, Kali Pepek dan tempat pemakaman Dieng. Keesokan harinya baru dilakukan kirab menuju tempat pencukuran. Selama berkeliling desa anak – anak rambut gimbal ini dikawal para sesepuh, tokoh masyarakat, kelompok paguyuban seni tradisional, serta masyarakat.
Selain pemotongan rambut anak gimbal, DCF memiliki beragam acara pendukung, diantaranya adalah Jazz Atas Awan yang sekarang juga menjadi agenda event nasional, ada juga Festival Film Dieng, Festival Lampion, Minum Purwaceng Bersama, Camping DCF, Sendra Tari Rambut Gimbal, Jalan Sehat dan Reboisasi, serta Expo, dll.
Selama 4 periode DCF telah berhasil menyedot perhatian wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Karena Dieng Culture Festival selalu menyuguhkan perpaduan seni tradisi, kekayaan indie dan kontemporer menjadi kemasan yang sangat menarik, dan selain itu ada selalu yang baru pada setiap tahunnya.
Sesuai dengan Analisis potensi Kawasan Wisata Dieng oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah dengan menggunakan pendekatan 4A, yang salah satunya adalah “Atraksi” atau daya tarik wisata yang merupakan faktor penarik utama dalam kegiatan pariwisata, dimana Atraksi tersebut dapat dibagi menjadi tiga yaitu : (1) Atraksi Alam, (2) Atraksi Budaya, dan (3) Atraksi Buatan.
Kawasan Wisata Dieng memiliki kekayaan budaya yang unik dan dari segi jumlahnya cukup banyak sehingga dapat digunakan untuk menjadi suatu daya tarik pariwisata. Namun hal ini masih kurang dimanfaatkan secara baik, karena masih kurangnya informasi – informasi / publikasi mengenai waktu diadakannya acara – acara budaya tersebut sehingga turis tidak bisa ikut menikmati acara – acara budaya tersebut. Selain itu, tidak adanya informasi yang cukup akurat mengenai cerita dari adat istiadat dan peninggalan bersejarah tersebut mengakibatkan tidak adanya story making (pembuatan cerita – cerita, mitos, atau sejarah) dan story telling (proses penceritaan cerita – cerita, mitos atau sejarah) yang dapat dijadikan sebagai tambahan aktivitas bagi wisatawan ketika mendengarkan cerita dan makna dari adat istiadat dan peninggalan bersejarah tersebut.1 Disini menguatkan adanya DCF dijadikan alat untuk mengkomunikasikan ke masyarakat luas khasanah budaya dan adat istiadat yang dimiliki Dieng, sehingga manfaat pariwisata yang salah satunya adalah menambah wawasan / pengetahuan ini juga sampai ke wisatawan dengan baik.
Festival Budaya di Dataran Tinggi Dieng diharapkan dapat menjadi magnet baru wisata di Jawa Tengah pada umumnya dan Dieng pada khususnya, dengan mengenalkan potensi wisata dan juga seni budaya yang dimiliki kepada semua lapisan masyarakat baik di dalam negeri maupun mancanegara. Selain itu, DCF diandalkan sebagai sektor baru untuk peningkatan taraf ekonomi rakyat.

Komodifikasi Budaya Untuk Pariwisata

Aktivitas pembangunan ekonomi telah memodifikasi sumber daya dan mengubah struktur dan pola konsumsinya, termasuk didalamnya oleh sektor pariwisata (Pitana dan Diarta, 2009). Tidak dapat dipungkiri bahwa berjalanannya industri pariwisata sangat bergantung pada sumber daya yang ada. Dalam konteks pariwisata, sumber daya diartikan sebagai segala sesuatu yang memiliki potensi untuk dikembangkan dalam mendukung pariwisata. Sumber daya yang terkait dengan pengembangan pariwisata termasuk berupa Sumber Daya Alam, Sumber Daya Budaya, Sumber Daya Minat Khusus, serta Sumber Daya Manusia.
Pariwisata budaya merupakan salah satu jenis kepariwisataan yang dikembangkan bertumpu pada kebudayaan. Kebudayaan yang dimaksud adalah kebudayaan Indonesia yang berdasarkan Pancasila.2
Pariwisata budaya sebagai suatu kebijaksanaan pengembangan kepariwisataan di Indonesia memiliki unsur – unsur budaya yang penting dalam usahanya menarik wisatawan berkunjung ke Indonesia, diantaranya adalah :

  1. Untuk mempromosikan kepariwisataan secara umum baik dalam maupun luar negeri
  2. Produk seni budaya akan menyiapkan lapangan kerja dan peningkatan penghasilan masyarakat
  3. Penampilan seni dan budaya disamping menarik perhatian wisatawan juga meningkatkan pemberdayaan seni dan budaya
  4. Penampilan seni budaya dapat meningkatkan pemeliharaan dan manajemen museum, galeri dan monumen – monumen seni budaya lainnya.
    Dana yang dihasilkan dengan penjualan produk seni dan budaya bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat
  5. Sentuhan dengan seni budaya lain meningkatkan harkat, kehormatan dan pemahaman tentang arti kemanusiaan.
  6. Pembangunan kepariwisataan Indonesia diarahkan untuk (1) pelestarian seni dan budaya, (2) penanaman rasa cinta tanah air dan jati diring bangsa, (3) peningkatan devisa, (4) penciptaan lapangan kerja dan kesempatan berusaha, dan (5) memperkenalkan adat istiadat dan budaya Indonesia dalam rangka menjalin hubungan antarbangsa

“Kebudayaan” mengandung pengertian akan segala hasil olah pikir dan olah krida manusia, yang secara normatif dimiliki bersama oleh sebuah sosial yang disebut “masyarakat” (Yoeti, 2006) Kebudayaan memberikan daya tarik yang tak terbatas dalam setiap aspek kehidupan, tetapi ketika budaya bertemu dengan pariwisata yang menjadikan kebudayaan itu sebagai produk dari pariwisata maka akan terjadi komodifikasi, yaitu berubahnya suatu hal biasa menjadi sebuah komoditas. Komodifikasi akan memberikan dampak baik positif ataupun negatif.

Agar suatu kebudayaan dapat lestari, yaitu selalu ada eksistensinya, maka upaya – upaya yang perlu dijamin kelangsungannya meliputi: (1) Perlindungan, meliputi upaya – upaya untuk menjaga agar hasil – hasil budaya tidak hilang atau rusak; (2) Pengembangan, meliputi pengolahan yang menghasilkan peningkatan mutu dan atau perluasan khazanah; (3) Pemanfaatan, meliputi upaya – upaya untuk menggunakan hasil – hasil budaya untuk berbagai keperluan, seperti untuk menekankan citra identitas suatu bangsa, untuk pendidikan kesadaran budaya, untuk dijadikan muatan industri budaya, dan untuk dijadikan daya tarik wisata.

 

Dampak Positif Dieng Culture Festival

a. Naiknya Taraf Perekonomian

Dieng Culture Festival terbukti membantu kenaikan taraf perekonomian rakyat melalui pariwisata. DCF tidak hanya bertujuan mengenalkan potensi wisata dan seni budaya kepada masyarakat luas sebagai sebuah destinasi wisata, namun juga untuk memperbaiki perekonomian masyarakat yang pada waktu itu mulai melemah karena eksploitasi tanah besar – besaran oleh pertanian. Ternyata pariwisata tampil sebagai penopang selain sektor Pertanian.

b. Pelestarian Budaya

Dieng Culture Festival merupakan bentuk upaya pelestarian budaya ruwatan. Ruwatan banyak dilakukan di Jawa Tengah
dan Yogyakarta, namun ruwatan anak rambut gimbal yang Dieng miliki ini memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh daerah lain. DCF memperkuat alasan untuk terus dilaksanakannya ritual ruwatan ini di Dieng.

c. Promosi Pariwisata Daerah

Pemerintah daerah Dieng secara kreatif telah memberikan format Festival pada upacara ruwatan anak gimbal, promosi besar – besaran pun dilakukan demi menunjang kesuksesan acara ini. Dengan keunikan yang dimiliki oleh upacara pemotongan rambut gimbal ini, serta acara – acara pendukung yang dimiliki DCF mampu menarik perhatian masyarakat luas, baik lokal maupun mancanegara untuk berkunjung ke Dieng dan menyaksikan DCF. Jadi komodifikasi yang terjadi juga ikut membesarkan nama Dieng di kancah pariwisata nasional maupun internasional.

Konklusi

Kebudayaan adalah hal yang memberikan daya tarik tak terbatas dalam setiap aspek kehidupan. Tetapi ketika budaya bertemu dengan pariwisata yang menjadikan kebudayaan itu sebagai produk, maka tidak bisa dipungkiri bahwa akan terjadi komodifikasi, yang merubah budaya menjadi sebuah komoditas. Di satu sisi Dieng Culture Festival bisa mendongkrak nama dan perekonomian Dieng, tetapi disisi lain dilihat dari sudut pandang tradisi dan kebudayaan seperti kehilangan makna dan tradisi.
Kebudayaan dan pariwisata memang bisa menghasilkan keuntungan, tetapi harus tetap berpegang teguh pada makna dan kesakralan. Tradisi ini berlanjut karena warga dengan kearifan lokalnya yang percaya akan makna tradisi itu. Kesejahteraan masyarakat dan kearifan lokalnya sudah sebaiknya menjadi pertimbangan utama semua pihak ketika akan menetapkan kebijakan pariwisata. Sebab kebudayaan itu ada karena masyarakat, berawal dari masyarakat, dan didayagunakan untuk masyarakat.

sumber: scribd

Categories
Tak Berkategori

Dubes Seychelles Kagumi Panorama Dieng

Duta Besar Republik Seychelles, Nico Barito mengaku kagum terhadap keindahan panorama Kawasan Wisata Dataran Tinggi Dieng di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

“Dieng ini tempat wisata yang baik sekali. Artinya, alamnya terawat baik, masyarakatnya ramah, yang saling saya banggakan yaitu keasliannya, jalannya masih kecil tapi bagus, kulinernya, dan budayanya,” kata Nico di sela-sela kegiatan “Dieng Culture Festival (DCF) IV”, di kompleks Candi Arjuna, KWDT Dieng, Banjarnegara, Sabtu (29/6/2013).

Menurut Nico, KWDT Dieng merupakan suatu destinasi wisata yang memiliki nilai-nilai warisan budaya.

“Warisan budaya yang sedemikian bagus, ada candi, ada kawah, cuma sayangnya mungkin masih bersifat pesta lokal. Kita ini sebagai perwakilan negara asing, diberi kesempatan kemari tentu terpanggil, bagaimana kita bisa mengajak lebih banyak orang untuk kemari,” kata Nico yang juga Utusan Khusus Presiden Republik Seychelles untuk negara-negara ASEAN.

Oleh karena itu, dia mengimbau media massa untuk bisa menginformasikan potensi KWDT Dieng dalam bahasa Inggris karena selama ini, berita-berita tentang Dieng di jaringan internet lebih banyak tersaji dalam bahasa Indonesia.

Terkait hal itu, Nico mengharapkan wartawan bisa mengirimkan berita tentang Dieng kepadanya dan selanjutnya akan didistribusikan kepada warga Seyschelles melalui media massa di negara itu, sehingga pembacanya menjadi lebih banyak.

“Saya kira, promosi paling utama melalui media, karena kalau media sudah mengangkatnya, promosinya akan bagus. Republik Seychelles tanpa dukungan media, tidak akan ada yang kenal,” kata pria kelahiran Barito (Kalimantan) ini.

Disinggung mengenai infrastruktur menuju Dieng, Nico mengatakan hal itu ibarat telur dan ayam, yakni siapa yang datang dulu.

Dia mengakui infrastruktur memang diperlukan, tetapi jika berbicara tamu yang datang berasal dari dalam dan luar negeri, hal itu merupakan dua subyek yang berbeda.

“Kalau tamu dari luar negeri, datangnya menggunakan pesawat terbang, sehingga harus bicara tidak hanya infrastruktur di Dieng sendiri, tetapi juga bagaimana Jakarta sebagai pelabuhan internasional, bagaimana Semarang dan Solo itu ikut menjemput bola. Jadi, kalau misalnya bandara yang ada di Solo dan Semarang tidak ikut menjemput bola, tidak ikut mempromosikan Dieng, orang tidak akan pernah tahu Dieng,” paparnya.

Selain itu, lanjut Nico, Dieng juga harus punya meja-meja promosi di berbagai bandara internasional karena selain maskapai penerbangan Garuda, tidak ada penerbangan-penerbangan internasional lainnya yang menuliskan tentang Dieng di majalahnya.

Terkait akses jalan dari Banjarnegara menuju Dieng yang berliku, dia mengaku hal itu tidak menjadi permasalahan. “Seychelles itu negara pulau, tetapi pulau gunung, dari laut langsung gunung. Jadi, Seychelles dengan kondisi demikian, wisatawan tetap jalan,” katanya.

Dia pun mencontohkan Italia yang kondisi jalannya berupa lorong-lorong kecil tetap dipertahankan karena nilai seninya ada pada kondisi seperti itu. “Di saat dia (jalan) besar, menjadi jalan tol, tidak ada seninya. Jadi rute itu (Banjarnegara menuju Dieng) tidak menjadi masalah,” katanya.

Kendati demikian, Nico mengatakan bahwa di sepanjang jalur Banjarnegara-Dieng perlu diberi rambu-rambu dan penunjuk arah supaya orang yang baru pertama kali datang ke Dieng akan merasa nyaman.

sumber:ANTARA

Categories
Tak Berkategori

Dieng Tawarkan Paket Wisata Baru

Kelompok Sadar Wisata Dieng Pandawa menyiapkan paket wisata baru bagi mereka yang akan berlibur ke daerah di atas awan itu. Di tempat baru ini, wisatawan bisa melihat matahari terbit dan sore harinya bisa melihat temaram senja sebelum matahari terbenam.

“Selama ini yang lebih dikenal adalah Bukit Sikunir dan Prau, padahal ada tempat lain yang menurut saya paling indah dibanding tempat lainnya,” kata Wakil Bupati Banjarnegara, Hadi Supeno, Selasa 8 April 2014.

Ia mengatakan, di Bukit Pangonan, calon lokasi baru itu, terdapat padang savanna yang luas yang bernama Telaga Sumurup. Hanya saja, lokasi baru itu terletak di cagar alam yang membutuhkan izin khusus dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah.

Masih menurut Hadi, di lokasi baru juga terdapat Telaga Nirwana. Menurut kisah pewayangan, Telaga Nirwana merupakan tempat tokoh kera Hanoman malih rupa menjadi manusia kembali setelah membasuh muka dan badannya dengan air telaga nirwana.

Selain itu, kata Hadi, di tengah savanna terdapat pohon cemeti yang mistis. Ada pula habitat asli tanaman purwaceng, ginseng dari tanah Jawa. “Lansekap Candi Arjuna juga bisa dilihat dari bukit ini,” katanya.

Untuk memudahkan mencapai bukit, kata Hadi, akan dibuatkan jalan setapak dan jalan kuda bagi yang tak kuat berjalan menanjak. “Penggunaan kuda dimungkinkan sebab rute jalannya juga mendukung. Lagi pula, alternatif ini seperti mengembalikan kodratnya bukit Pangonan yang menurut sejarahnya merupakan tempat angon kuda,” katanya.

Endi Suryo dari BKSDA Jawa Tengah mengatakan, Telaga Sumurup merupakan lahan konservasi yang sifatnya tertutup dan tidak boleh diselenggarakan kegiatan. “Apalagi untuk kegiatan semacam off road yang berpotensi merusak kelestarian Cagar Alam. Namun kalau kegiatan yang dilakukan berupa jalan kaki dan penelitian, kemungkinan besar akan diizinkan,” katanya.

sumber:tempo.co

Categories
Tak Berkategori

Anak Gimbal, Keunikan Mistis dari Tanah Dieng

Dieng merupakan tempat yang mempunyai banyak potensi alam yang bisa dijadikan tempat wisata. Contoh-contoh tempat wisata yang ada di Dieng antara lain Telaga Warna, Telaga Cembong, Kawah Sikadang, Candi Arjuna, Candi Dwarawati, Dieng Plateau (tempat pemutaran film tentang Dieng), dan masih banyak lagi.

Di balik kekayaan alamnya yang sangat indah, jika Anda berkunjung ke Dieng pasti Anda akan menemukan beberapa anak yang berambut bajang (rambut gimbal). Di daerah Dieng, mempunyai anak atau keturunan yang berambut gimbal sudah merupakan hal yang biasa. Tetapi bagi orang awam yang baru berkunjung atau melihat secara langsung anak-anak ini pasti akan bertanya-tanya tentang asal-usul dari kejadian ini. Sebenarnya, tidak ada yang mengetahui secara jelas mengapa bisa terjadi hal seperti ini.
Ada 2 versi mengenai asal-usul anak gimbal ini. Pertama adalah masyarakat yakin rambut gimbal adalah keturunan dari nenek moyang yang menemukan daerah Dieng, yaitu Kyai Kolodete. Konon katanya, Kyai Kolodete tidak akan pernah mandi dan mencuci rambutnya sebelum daerah yang ditemukannya itu menjadi makmur. Hingga saat ini kepercayaan itu masih dianggap benar oleh masyarakat sekitar. Masyarakat menilai jika mereka memiliki keturunan yang berambut gimbal maka hidupnya akan makmur.

Versi keduanya, anak-anak di daerah Dieng memiliki rambut gimbal karena adanya gas belerang atau adanya sumber belerang di daerah Dieng. Maka pada saat ibu mereka mengandung, ibu mereka terlalu sering menghirup gas belerang, maka gen yang dihasilkan tidak sempurna dan anak yang lahir mempunyai rambut yang gimbal. Tetapi pendapat ini masih belum bisa dibuktikan kebenarannya.

Sesepuh desa di Dieng mengatakan, anak yang berambut gimbal adalah anak yang suci. Semua permintaan yang diminta oleh anak gimbal harus dituruti secara tepat, tidak boleh kurang maupun lebih. Masyarakat tidak berani melanggar pantangan-pantangan menyangkut mitos anak gimbal ini, seperti memotong rambut gimbal tersebut sebelum si anak meminta untuk dipotong. Apabila dilanggar maka akan mengakibatkan si anak sakit dan rambut pun kembali gimbal.

Adapun ritual yang diadakan untuk memotong rambut gimbal itu, dikenal masyarakat dengan nama Dieng Culture Festival. Biasanya acara ini diadakan pada bulan Sura dalam kalender Jawa dan diselenggarakan di kompleks Candi Arjuna. Pada ritual ini, mitosnya orangtua harus menuruti semua apa yang diminta oleh anaknya, jika tidak maka anaknya akan sakit-sakitan. Rangkaian acara ini pertama, anak gimbal akan dimandikan dengan air dari 7 sumber, kemudian diarak, dan dilempari beras kuning dan uang koin, baru dipotong rambut gimbalnya oleh pemuka adat. Terakhir, potongan rambutnya akan dibuang ke Telaga Warna.

sumber: news.liputan6.com

Categories
Tak Berkategori

Keanggotaan Pokdarwis

Pokdarwis Dieng Pandawa sekarang beranggotakan semua stakeholder Pariwisata dan menjadi Forum Rembug Klaster Pariwisata Dieng dan bersifat sukarela sesuai dengan AD/ART Pokdarwis Dieng Pandawa. Saat ini jumlah anggota lebih dari 300 personel yang tersebar di 8 kelompok usaha(Pokja) atau Seksi Pokdarwis Dieng Pandawa

1. Pokja ukm Home Industri Makanan Khas

Ada beberapa industry makanan khas yang dikembangkan dan di kelola oleh masyarakat Desa Wisata dieng Kulon, seperti Industri sirup carica, Industri minuman purwaceng, Industri Keripik kentang, dan lain- lain. Industri- industry tersebut mempunyai prospek ekonomi yang sangat baik,. Bahkan beberapa hasil produksi telah ikut di pamerkan dalam gelar Karya Pemberdayaan Masayarakat Nasional di JCC Jakarta.

2. Pokja Kerajinan/Sovenir

Ada beberapa Ukm Sovenir dibawah binaan pokdarwis dan menjadi Pokja sendiri seperti dan pernah difasilitasi pelatihan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah dan PNPM Pariwisata seperti :

  • Batik Kayu Dewa

    Batik kayu merupakan salah satu kerajinan khas Dieng yang mempunyai keunikan yaitu media pembatikannya menggunakan kayu asli Dieng, seperti kayu Cemeti, Pringgondani, Tengsek, dan lain- lain

  • Sablon Kaos Dieng

    Merupakan ukm yang memproduksi sovenir berupa kaos yang bertulis dan bergambarkan obyek wisata Dieng

  • Miniatur candi

    Miniatur Candi ini dibuat oleh masyarakat Dieng, dengan menggunakan dua macam bahan yaitu Gibsum dan kayu. Miniatur candi yang dibentuk adalah miniature candi yang ada di Dieng.

3. Pokja Home stay

Pokja Home Stay sangat berperan penting dimana Home Stay menjadi tempat bagi wisatawan yang berkunjung untuk menginap dalam waktu tertentu. Saat ini sudah ada 62 rumah di dieng kulon yang masuk pokja homestay

4. Pokja seni dan Budaya

Pokja ini beranggotakan para Pelaku Kesenian dan tokoh Budaya dan dalam rang mengembangkan industri pariwisata berbasi budaya kearifan lokal tentunya pokja ini berperan menjadikan daya tarik tersendiri untuk perkembangan pariwisata di kawasan Dieng seperti :

  1. Pentas Budaya Ruwatan Rambut Gembel ( Dieng Culture Festival )

    Prosesi/ Ritual budaya khas Dieng yang biasanya dilaksanakan pada periode tertentu sesuai dengan kemampuan ekonomi masing- masing keluarga yang memiliki anak dengan rambut gembel. Dari tahun 2008 hingga sekarang, kelompok sadar wisata (POKDARWIS) Dieng Pandawa telah menjadikan ritual ini sebagai acara Budaya tahunan yang masuk dalam program kerja POKDARWIS, yang biasanya di laksanakan pada bulan juli setiap tahunnya. Acara Budaya ini ditandai dengan pemotongan rambut Gembel dan di sertai dengan pentas seni tradisional Dieng.

    Dan tahun 2013 keberhasilan kegiatan ini mampu menarik wisatawan dengan maksimal sehingga tidak hanya Desa wisata Dieng Kulon yang dipenuhi wisatawan bahkan semua desa wisata dikawasan Dieng dan tempat-tempat penginapan tidak dapat menampung wisatawan yang datang hingga diadakan area campinggroundyang juga terisi penuh.

  2. Seni Tari tradisional sebagai penyambutan wisatawan dan mengisi kegiatan wisatawan Seni & Budaya

5. Pokja Pramuwisata dan LH

 

Pokja ini lebih banyak beranggotakan pemuda pemudi yang bergerak di bidang jasa pramuwisata/guide lokal dan wisata outbond

6. Pokja Agrotourism

Pokja ini beanggotakan masyarakat petani yang siap menjadi tuan rumah bagi wisatawan dan mengenalkan aktivitas pertanian kepada wisatawan

7. Pokja Kemanan

Pokja ini beranggotakan para Pemuda dan masyarakat yang bergerak di bidang keamanan dan ketertiban

8. Pokja Pemasaran

Pokja ini bergerak sebagai Humas, promosi dan memasarkan potensi anggota forum masyarakat sadarwisata atau pokdarwis Dieng pandawa dan bekerja sama dengan media baik cetak ataupun lainya untuk promosi, bekerja sama dengan biro-biro wisata dan mengelola beberapa web serta aktif mengikuti pameran serta mengadakan pameran di event-event tertentu